Bandung, Teknojurnal.net – Siapa sangka, dari sebuah dapur sederhana di rumahnya, Teh Iis Sona Sonaengsih, owner Falfath Cake and Cookies, mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang usaha yang kini terus berkembang. Sebagai peserta program pemberdayaan ekonomi Rumah Zakat, Teh Iis membuktikan bahwa ketekunan, keberanian belajar, dan pendampingan yang tepat dapat membuka jalan menuju kemandirian ekonomi keluarga Juni 2026.
Perjalanan usaha Teh Iis tidak dimulai dari bisnis cake. Sebelum menikah, ia bekerja sebagai operator jahit di sebuah pabrik garmen hingga tahun 2019. Saat hamil anak kedua dan harus pindah rumah mengikuti suami, ia memutuskan berhenti bekerja. Namun semangat berwirausahanya sudah tumbuh sejak masih menjadi karyawan. Kala itu, ia menjual seblak kering kepada rekan-rekan kerja di pabrik. Setelah resign, usaha tersebut tetap berjalan melalui pemasaran online menggunakan Facebook dan WhatsApp, bahkan sempat dikelola bersama suaminya yang terkena PHK saat pandemi Covid-19. Namun karena proses produksi yang cukup panjang dan suaminya kembali bekerja sebagai operator jahit, usaha seblak kering akhirnya dihentikan.
Titik balik terjadi ketika Teh Iis mengikuti kursus dekorasi cake berbayar senilai Rp400.000. Meski sederhana, pelatihan tersebut menjadi modal ilmu dan pengalaman yang membuka jalan baru baginya. Berawal dari menerima pesanan bolu jadul, ia kemudian memberanikan diri menerima pesanan cake dekorasi pertama meski diliputi rasa gugup. Hasilnya di luar dugaan, pelanggan memberikan ulasan positif sehingga semakin memotivasi dirinya untuk terus mengasah kemampuan, termasuk belajar secara mandiri melalui berbagai video tutorial di YouTube.
“Saya tidak menyangka dari kursus yang nilainya hanya Rp400 ribu itu bisa menjadi titik awal usaha yang sekarang menjadi sumber penghasilan keluarga. Awalnya deg-degan saat menerima pesanan cake dekorasi pertama, tapi alhamdulillah pelanggan puas dan itu membuat saya semakin percaya diri untuk terus belajar dan berkembang,” ungkap Teh Iis.
Dalam perjalanannya, berbagai tantangan juga harus dihadapi. Pada dua tahun pertama, hampir seluruh pesanan harus diantar langsung kepada pelanggan, sementara Teh Iis belum bisa mengendarai sepeda motor sehingga harus menunggu suami pulang kerja untuk melakukan pengiriman. Pada tahun 2022, ia mengambil keputusan berani dengan menerapkan sistem pelanggan mengambil pesanan langsung ke lokasi produksi atau menggunakan layanan ojek online. Keputusan yang awalnya dikhawatirkan akan mengurangi pelanggan tersebut justru mendapat respons positif dan usaha terus berjalan dengan baik.
Bergabung sebagai peserta binaan Rumah Zakat menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan usaha Teh Iis. Selain mendapatkan pendampingan usaha secara rutin, ia juga memperoleh dukungan modal yang membantu memperkuat fondasi bisnisnya. Sebelum mendapatkan intervensi program, omzet usaha Falfath Cake and Cookies rata-rata berada di kisaran Rp5 juta per bulan. Namun seiring meningkatnya kapasitas usaha, pengelolaan keuangan yang lebih baik, serta tumbuhnya kepercayaan diri untuk mengembangkan produk, omzet usahanya kini mampu mencapai sekitar Rp20 juta per bulan.
“Alhamdulillah, dampak yang paling saya rasakan setelah mendapatkan dukungan dari Rumah Zakat adalah saya memiliki modal usaha tersendiri. Dulu modal usaha sering bercampur dengan kebutuhan rumah tangga sehingga harus diputar terus. Sekarang usaha lebih tertata, produksi lebih lancar, dan omzet pun terus meningkat. Dari yang sebelumnya sekitar lima jutaan per bulan, sekarang bisa mencapai dua puluh jutaan,” ungkap Teh Iis.
Tidak hanya berdampak pada peningkatan omzet, pendampingan Rumah Zakat juga mendorong lahirnya berbagai ide pengembangan usaha. Pada April 2026, Teh Iis mulai menghadirkan produk cake kemasan minimalis dengan harga Rp15.000 untuk menjangkau pelanggan yang menginginkan produk praktis dan terjangkau. Ke depan, ia juga berencana mengembangkan lini produk pudding cup dan aneka kue basah sebagai langkah memperluas pasar.
“Saya masih terus belajar memperbaiki pelayanan. Pernah ada pelanggan yang marah karena saya lambat merespons pesan. Dari situ saya sadar bahwa selain kualitas produk, pelayanan juga sangat penting. Saya berharap dengan pendampingan yang terus dilakukan Rumah Zakat, usaha ini bisa semakin berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi keluarga,” tambahnya.
Keberhasilan Teh Iis menunjukkan bahwa program pemberdayaan tidak hanya membantu meningkatkan pendapatan, tetapi juga mampu menumbuhkan optimisme, kemandirian, dan keberanian untuk terus berinovasi. Dari dapur sederhana yang dahulu hanya menjadi tempat mencoba resep, kini lahir sebuah usaha yang mampu menopang ekonomi keluarga dan membuka jalan bagi mimpi-mimpi yang lebih besar.
Liputan khusus : Giat relawan/Imas m
Editor : Apep sae,












